Thursday, January 12, 2012

MONSTARday





Happy 27th birthday, Monstar!

xoxo

Published with Blogger-droid v2.0.2

Wednesday, January 11, 2012

in between

I always have this feeling on me, that in some way, other times are better than this time. Ungrateful? Perhaps yes...

Last year
I was pretty busy with thesis and start my first full time work as one of Public Relations at a top-ten private bank in country. It was uneasy though since I had more to handle, the freelance work. All those 'works' were not included quality times with families & friends, relationship to be maintained, and pack & unpack all stuffs since we were moving in to a new house. Hence, you could imagine me monitor tons of newspapers on Mondays, focus on work until Wednesday or Thursday, work on my thesis almost every night and lack of sleep on Thursdays and Fridays, thesis class & freelance work's meetings on Fridays & Saturdays, back work on my thesis on Saturdays, try to finish reports of the full time work on Sundays.
Long story short, I had no time for me, yeah none left for my own self...

Now
I resigned from work and got Bachelor's degree in Communications. The freelance work is still remain. I've got plenty of me time to figure out what's the best for next, either find another full time job or continue study for Master's degree. I stay up until dawn and get up before lunch time. I even can get the quality times with friends & families anytime I want. I get bored sometimes, but that's normal since I previously had such a pretty busy routines.

Perhaps, become such an ungrateful person at any of my time will not fill the empty little room in my heart. There must be something's missing or have not realized yet. At some point, I realized that I forgot how to be wise and grateful for life. Forgot that I should take life as it goes (and of course try my best) and just enjoy every moment in life.

Sometimes, it's not about being ups and downs in life, but what you learned from it.

Cheers!

Published with Blogger-droid v2.0.2

Thursday, December 29, 2011

spicy tuna fusilli

Nyummy!


Published with Blogger-droid v2.0.2

Sunday, December 18, 2011

NYSID

A package came all of sudden, just like a signage


Published with Blogger-droid v2.0.2

pixl-O

Cammomile tea meets Sunday morning


Published with Blogger-droid v2.0.2

Wednesday, September 15, 2010

anak gaul

Kebanyakan anak muda berpikir bahwa yang namanya eksistensi atau 'gaul' itu perlu. Bahkan tidak jarang jadi sebuah 'identitas', ibarat kulit muka yang dapat dilihat oleh dunia luar mengenai 'seperti apa' anak muda sebagai individu. Tapi apa benar yang terlihat dari luar benar merupakan identitas?

Munculnya social media seperti facebook, twitter, foursquare, dan banyak lainnya turut andil dalam ajang 'eksistensi' anak muda ini. Facebook yang awalnya memuat foto saat bersosialisasi, lalu 'ditunjang' oleh fasilitas 'update status' yang enggak jarang diisi dengan 'lagi-dimana'. Check in di tempat hip, daerah elite, dandanan cantik ataupun ganteng, brand yang 'dipakai', ataupun pergi sama siapa; semua ibarat jadi sorotan. Singkatnya, semua orang ingin jadi selebritis (walau hanya dalam komunitasnya saja). Yang penting terlihat 'gaul'...

Fenomena 'gaul' inilah yang bikin banyak orang terlihat makin galau (bahkan di dunia sosial media sekalipun), atau bahasa kerennya 'ababil' alias abg labil. Tweet yang berupa monolog ala 'suara hati sinetron' yang berisi kegalauan cinta-cintaan juga enggak jarang ditemui. Ga jarang komentar 'kabur' seperti "Gue jadi seperti itu karena ada medianya, ada yang nyediain, bukan gw-nya yang labil." menjadi alibi...

Ibarat musik, ada arus mainstream dan indie. Musik indie, yang enggak peduli sama arus mainstream dengan "gue bikin yang gue suka, yang beda, yang gue mau, dan gue usahain semuanya sendiri alias independent."
Arus mainstream sendiri punya berbagai aliran. Walau didominasi oleh musik pop, tapi ada pula rnb, jazz, bossanova, dan sebagainya. dan sebagai tambahan ada pula genre peranakan seperti pop dangdut, pop melayu, dan sebagainya. Dengan lirik mendayu-dayu yang isinya cinta melulu, nyanyian-nyanyian 'putus asa' pun mendominasi arus mainstream. Ironis memang...

Persaingan anak muda dalam eksistensi juga enggak jarang ditemui. Banyak anak muda yang masih mencari jati diri ini enggak tau mau ikut ke arah mana, dan tren yang muncul dari arus mainstream (serta public figure) jadi contoh. Saat konsumtif jadi gaya hidup, saat semua orang punya kamera DSLR, saat PIN lebih penting daripada nomor telepon; dan saat keinginan orang lain 'juga' jadi keinginan kita, keseragaman terasa jadi sesuatu yang penting banget. Bahkan lebih penting daripada jadi diri kita sendiri.

Kembali kepada pertanyaan awal, apa benar bahwa apa yang terlihat dari luar benar merupakan identitas kita sebagai individu?

Thursday, July 8, 2010

anak mall

realita kehidupan jakarta, kita secara tidak langsung 'dididik' untuk jadi anak mall. dengan dibangun mall diseluruh penjuru kota jakarta, dari yang terkenal sampe enggak dikenal, berbagai sudut kota penuh dengan mall. coba tengok beberapa public spaces yang umumnya dimiliki kota-kota besar lainnya di dunia sebagai suatu standar kehidupan memadai, jakarta yang ngakunya sebagai kota besar ini jarang punya. alasannya "memang standar hidup disini belum banyak penduduk yang bisa hidup layak." klise dan nyebelin abis. pemerintah yang katanya cuma ongkang-ongkang kaki dan sebodo amat sama pembangunan tata kota, ataupun penduduk yang ga beda jauh, ngomel dan ngeluh doang kerjanya, tapi tetep aja tuh buang sampah sembarangan. intinya sebagai sesama penghuni jakarta, kita saling menyalahkan baik tentang kebersihan, polusi, banjir, macet, dan sebagainya. tidak ada melihat ke dalam diri sendiri untuk refleksi mengenai apa yang bisa 'saya' perbuat untuk lingkungan yang lebih baik lagi. ga jarang terdengar kata-kata "gue bukannya ga mau, tapi lingkungannya aja yang ga mendukung" yang ujung-ujungnya enggak bergerak untuk melakukan perubahan. padahal, apabila banyak 'saya' bergabung, bersama melakukan perubahan, maka kita bisa punya kota yang lebih nyaman lagi.

jadi anak mall, yang kerjaannya main ke mall terus, menurut gue bukan sesuatu yang buruk, toh terlihat biasa-biasa saja saat hampir setiap hari dilakoni. mulai dari belanja apa-apa di mall, nongkrong di mall, nonton di mall, jalan-jalan kalo bosen ke mall, kampus yang kayak mall, dan seterusnya... tidak buruk, namun apa bisa 'kehidupan ala mall' ini jadi sesuatu yang membangun? selain membangun sifat konsumtif tentunya.

jogging sore di taman, berjalan kaki di pedestrian yang layak, tong sampah dimana-mana, transportasi publik yang layak-aman-nyaman; semua itu kayak kemewahan sulit terbeli bagi warga jakarta. padahal, masih banyak hal bermanfaat dan menyenangkan lainnya yang bisa dilakukan selain di mall. ironis, tapi ya inilah, jakarta...