Happy 27th birthday, Monstar!
xoxo
Munculnya social media seperti facebook, twitter, foursquare, dan banyak lainnya turut andil dalam ajang 'eksistensi' anak muda ini. Facebook yang awalnya memuat foto saat bersosialisasi, lalu 'ditunjang' oleh fasilitas 'update status' yang enggak jarang diisi dengan 'lagi-dimana'. Check in di tempat hip, daerah elite, dandanan cantik ataupun ganteng, brand yang 'dipakai', ataupun pergi sama siapa; semua ibarat jadi sorotan. Singkatnya, semua orang ingin jadi selebritis (walau hanya dalam komunitasnya saja). Yang penting terlihat 'gaul'...
Fenomena 'gaul' inilah yang bikin banyak orang terlihat makin galau (bahkan di dunia sosial media sekalipun), atau bahasa kerennya 'ababil' alias abg labil. Tweet yang berupa monolog ala 'suara hati sinetron' yang berisi kegalauan cinta-cintaan juga enggak jarang ditemui. Ga jarang komentar 'kabur' seperti "Gue jadi seperti itu karena ada medianya, ada yang nyediain, bukan gw-nya yang labil." menjadi alibi...
Persaingan anak muda dalam eksistensi juga enggak jarang ditemui. Banyak anak muda yang masih mencari jati diri ini enggak tau mau ikut ke arah mana, dan tren yang muncul dari arus mainstream (serta public figure) jadi contoh. Saat konsumtif jadi gaya hidup, saat semua orang punya kamera DSLR, saat PIN lebih penting daripada nomor telepon; dan saat keinginan orang lain 'juga' jadi keinginan kita, keseragaman terasa jadi sesuatu yang penting banget. Bahkan lebih penting daripada jadi diri kita sendiri.
Kembali kepada pertanyaan awal, apa benar bahwa apa yang terlihat dari luar benar merupakan identitas kita sebagai individu?